TEORI GINZBERG
D
I
S
U
S
U
N
Oleh Kelompok 5
:
Aswar
Habibi
Khairunnisa
Rifqa
Wahdina Fadnur Nst
Wulan
Mentari

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan
Bimbingan
dan Konseling Islam
Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara
2016
KATA
PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Segala
puji dan sanjung hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan
salam tetap terlimpah kepada junjungan kita Rasulullah saw, keluarga, sahabat,
dan orang-orang yang tegak diatas agama-Nya hingga akhir zaman.
Dengan
memohon Ridha Yang Maha Kuasa, atas pembuatan makalah yang berjudul Teori Ginzberg dan dengan syukur
kepada-Nya karena pembuatan makalah ini dapat diselesaikan dengan sebaik
mungkin.
Pada
kesempatan ini kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen pembimbing. Dan
sebagai manusia yang tidak lepas dari lupa dan salah, dalam makalah ini
tentunya banyak ditemukan berbagai kesalahan dan kelalaian. Maka dari itu,
kritik dan saran yang sifatnya membangun dalam kesempurnaan makalah ini sangat
kami harapkan.
Harapan
kami, semoga makalah ini memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan kepada
pembaca umumnya.
Medan,
12 Oktober 2016
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1.Latar
Belakang........................................................................................ 1
1.2.Rumusan
Masalah................................................................................... 1
1.3.Tujuan...................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 2
1.
Konsep Teori Ginzberg..................................................................... 2
2.
Proses Pemilihan Karir...................................................................... 3
3.
Unsur-unsur Teori Ginzberg.............................................................. 6
BAB III
PENUTUP.............................................................................. 7
A.
Kesimpulan........................................................................................ 7
B.
Saran.................................................................................................. 7
Daftar
Pustaka............................................................................................ 8
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di
era globalisasi saat ini, karir sangatlah diperlukan bagi semua orang khususnya
bagi para peserta didik. Contohnya, sering kali para siswa kebingungan dalam
memilih suatu jurusan di SMA. Penyebabnya tidak lain karena tidak paham betul
dengan minat dan potensi yang ia miliki. Selain itu, faktor lingkungan juga
sangat mempengaruhi seseorang dalam mengambil suatu keputusan karir. Misalnya,
seorang siswa merasa dirinya salah dalam memilih suatu jurusan. Hal tersebut
disebabkan karena ia ikut-ikutan dengan
teman-temannya dalam memilih jurusan dan juga karena dorongan dari orang
tuanya. Untuk mengetahui bagaimana karir itu terjadi dan bagaimana karir itu
berkembang maka diperlukan pemahaman terhadap teori karir. Salah satu teori
tentang karir adalah Teori Karir Ginzberg.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
konsep-konsep pokok teori perkembangan karir Ginzberg
2. Bagaimana
proses pemilihan karir terjadi menurut teori perkembangan karir Ginzbe?
3. Apa saja unsur – unsur teori
perkembangan karir Ginzberg ?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui konsep pokok teori perkembangan karir Ginzberg
2. Untuk
mengetahui proses pemilihan karir
3. Untuk
mengetahui unsure-unsur teori perkembangan karir Ginzberg
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Konsep
teori Ginzberg
Teori Ginzberg dikembangkan pada
tahun 1951. Pokok yang dijadikan dasar bagi Ginzberg
dalam membangun teorinya adalah didasari atas pendekatan psikologis atas
tugas-tugas perkembangan yang dilalui manusia. Konsep perkembangan dan
pemilihan pekerjaan atau karier oleh Ginzberg dikelompokkan dalam tiga unsur
yaitu proses (bahwa
pilihan pekerjaan itu merupakan suatu proses), irreversibilitas (bahwa pilihan pekerjaan itu tidak bisa
diubah atau dibalik), kompromi
(bahwa pilihan pekerjaan itu merupakan kompromi antara faktor-faktor yang main
yaitu minat, kemampuan, dan nilai), dan optimisasi yang
merupakan penyempurnaan teori (individu yang mencari kecocokan kerja).
Teori
perkembangan karir (development career
choice theory) mengatakan bahwa anak dan remaja melewati tiga tahap
pemilihan karir yaitu : fantasi, tentative dan realistis. Saat ditanya “ mau
jadi apa kalau sudah besar ?’’, anak kecil mungkin menjawab dokter, guru, polisi,
tentara, astronot, atau pekerjaan lainnya. Pada saat masih kecil, masa depan
terkesan dapat memberikan jutaan kesempatan. Ginzberg beragumentasi bahwa
hingga usia 11 tahun, seorang anak masih dalam tahap fantasi dari pemilihan
karir. Dari umur 11-17 tahun, remaja ada dalam tahap tentative dari perkembangan
karir, sebuah transisi dari tahap pengambilan keputusan realistis dari masa
dewasa muda.
Ginzberg
percaya bahwa kemajuan remaja terlihat mulai dari mengevaluasi minat mereka
(11-12 tahun) lalu mengevaluasi kemampuan mereka (13-14 tahun) sampai
mengevaluasi nilai mereka (15-16 tahun). Pemikiran berubah dari yang kurang
subyektif hingga pemilihan karir yang lebih realistis pada usia 17-18 tahun.
Ginzberg menyebut usia 17-18 tahun hingga awal 20-an sebagai tahap realistis
dalam pemilihan karir. Selama masa ini, tiap orang secara ekstentif mencoba
karir yang mungkin, lalu memfokuskan diri pada satu bidang, dan akhirnya
memilih pekerjaan tertentu dalam karir tersebut.[1]
2.
Proses
Pemilihan Karir
Menurut Ginzberg, Ginzburg,
Axelrad, dan Herna, perkembangan dalam pemilihan pekerjaan terbagi menjadi tiga
tahapan yaitu fantasi, tentatif, dan realistik.
a. Masa fantasy
Masa ini berlangsung pada
individu dengan tahap usia sampai kira-kira 10 tahun atau 12 tahun (masa
sekolah dasar). Pada masa ini, proses pemilihan pekerjaan masih bersifat
sembarangan atau asal pilih, tanpa didasarkan pada pertimbangan yang matang
(rasional dan objektif) mengenai kenyataan yang ada dan hanya berdasarkan
pada kesan dan khayalan belaka.
Menurut Ginzberg, kegiatan bermain
pada masa fantasi secara bertahap menjadi berorientasi kerja dan merefleksikan
preferensi awal untuk jenis aktifitas tertentu. Berbagai peran okupasional
tercermin dalam kegiatan bermain, yang menghasilkan pertimbangan nilai dalam
dunia kerja. Contohnya, anak umur lima tahun ingin menjadi tentara karena
kegagahannya atau menjadi dokter karena dokter itu bermobil mewah dan
penghasilannya besar dari praktek swasta. Anak seperti ini percaya bahwa ia
bisa menjadi apa saja dan ini berdasarkan kesan yang diperolehnya mengenai
orang-orang yang bekerja atau keadaan lingkungan.
b. Masa tentatif
Pada
masa tentatif, pilihan karir anak mengalami perkembangan. Mula-mula
pertimbangan karier itu hanya berdasarkan kesenangan, ketertarikan, dan minat
saja tanpa pertimbangan apapun sedangkan faktor-faktor lainnya tidak
dipertimbangkan. Menyadari bahwa minatnya berubah-ubah maka anak mulai
memikirkan dan bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia memliki kemampuan
(kapasitas) melakukan pekerjaan yang dia inginkan, dan apakah pekerjaan itu
cocok dengan minatnya. Masa tentatif berlangsung lebih kurang 11-18
tahun atau pada masa anak bersekolah di SMP dan SMA. Pada masa ini, pilihan
pekerjaan seseorang mengalami perkembangan.
Conohnya seorang anak ingin menjadi
seorang dokter, dikarenakan ia berpikir bahwa menjadi seorang dokter itu hanya
sebatas memeriksa pasien dan mendapatkan uang, dan hidup dalam kemewahan. anak
tersebut tidak berpikir panjang tentang keputusan yang dia ambil, bahwasnya
menjadi seorang dokter itu tidaklah mudah, butuh pengetahuan yang luas dan
biaya yang cukup. sehingga dia berpikir
bahwa menjadi dokter itu sangatlah sulit. sehingga anak tersebut sudah dapat
memikirkan pekerjaan apa yang cocok dengan kemampuannya.
Dalam tahap ini, anak tersebut sudah
dapat mengambil keputusan tentang kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang dia
inginkan dan yang cocok dengan minatnya.
Pada masa tentative, Ginzberg mengklasifikasikan
manjadi empat tahap, yaitu :
1.
Tahap minat terjadi pada usia 11-12 tahun.
Individu membuat keputusan yang
lebih tentang suka atau tidak suka. Individu cenderung melakukan
pekerjaan/kegiatan hanya yang sesuai minat dan kesukaan mereka saja.
Pertimbangan karier pun juga didasari atas kesenangan, ketertarikan atau
minat individu terhadap objek karier, tanpa mempertimbangkan banyak
faktor. Akan tetapi, setelah menyadari bahwa minatnya berubah-ubah (sebagai
reaksi perkembangan dan interaksi lingkungannya), maka individu akan menanyakan
kepada dirinya tentang kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan suatu
pekerjaan. Keadaan ini disebut sebagai tahap kapasitas. Tahap kapasitas yaitu individu menjadi sadar akan kemampuan
sendiri yang terkait dengan aspirasi vokasional. Tahap ini berlangsung
antara pada usia 13-14 tahun yakni masa dimana individu mulai
melakukan pekerjaan/kegiatan didasarkan pada kemampuannya masing-masing.
Orientasi pilihan pekerjaan juga pada masa ini berbentuk upaya mencocokkan
kemampuan yang dimiliki dengan minat dan kesukaannya.
2. Tahap
nilai yaitu masa terbentuknya persepsi yang lebih jelas tentang gaya-gaya
okupasional.
Tahap ini berlangsung pada usia
15-16 tahun yaitu tahap dimana minat dan kapasitas itu akan diinterpretasikan
secara sederhana oleh individu yang mulai menyadari bahwa terdapat suatu
kandungan nilai-nilai tertentu dari suatu jenis pekerjaan, baik kandungan nilai
yang bersifat pribadi maupun serangkaian nilai yang bersifat kamasyarakatan.
Kesadaran akan serangkaian kandungan nilai ini pula yang membuat individu dapat
mendiferensiasikan nilai suatu pekerjaan.
3. Tahap
transisi berlangsung pada usia 17-18 tahun.
Pada usia ini individu menyadari
keputusannya tentang pilihan karir serta tanggung jawab yang menyertai karir
tersebut. Individu akan memadukan orientasi-orientasi pilihan yang dimiliki
sebelumnya (minat, kapasitas, dan nilai) untuk dapat direalisasikan dalam
kehidupannya. Tahap ini dikenal juga dengan tahap pengenalan secara gradual
terhadap persyaratan kerja, pengenalan minat, kemampuan, imbalan kerja, nilai,
dan perspektif waktu. Keputusan yang menjadi pilihan itu sudah merupakan bentuk
tanggung jawab dan konsekuensi pola karier yang dipilih.
c. Masa realistik
Pada tahap realistik
anak melakukan eksplorasi dengan memberikan penilaian atas
pengalaman-pengalaman kerjanya dalam kaitan dengan tuntutan sebenarnya, sebagai
syarat untuk bisa memasuki lapangan pekerjaan atau kalau tidak bekerja, untuk
melanjutkan ke perguruan tinggi. Masa ini mencakup anak usia 18-24
tahun atau pada masa perkuliahan atau mulai bekerja. Pada masa ini, okupasi
terhadap pekerjaan telah mengalami perkembangan yang lebih realistis. Orientasi
minat, kapasitas, dan nilai yang dimiliki individu terhadap pekerjaan akan
direfleksikan dan diintegrasikan secara runtut dan terstruktur dalam frame vokasional
untuk memilih jenis pekerjaan atau memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan
arah tentatif mereka.
Dalam masa realistik dibedakan
menjadi tiga tahap yaitu :
1. Tahap eksplorasi
Yaitu tahap dimana individu akan
melakukan eksplorasi (menerapkan pilihan-pilihan yang dipikirkan pada masa
tentatif akhir dan belum berani mengambil keputusan) dengan memberikan
penilaian atas pengalaman atau kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan dalam
keterkaitannya terhadap tuntutan kerja yang sebenarnya. Penilaian ini pada
hakikatnya berfungsi sebagai acuan atau syarat untuk bisa memasuki lapangan
pekerjaan atau untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tahap ini
berpusat pada saat masuk ke perguruan tinggi. Pada tahap ini, individu
mempersempit pilihan karir menjadi dua atau tiga kemungkinan tetapi pada
umumnya masih belum menentu.
2. Tahap kristalisasi
Yaitu tahap dimana penilaian yang
dilakukan individu terhadap pengalaman atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan pekerjaan baik yang berhasil ataupun yang gagal akan mengental dalam
bentuk pola-pola vokasional yang jelas. Pada tahap ini, individu akan mengambil
keputusan pokok dengan mengawinkan faktor-faktor internal dan eksternal dirinya
untuk sampai pada spesifikasi pekerjaan tertentu, termasuk tekanan keadaan yang
ikut memaksa pengambilan keputusan itu. Tahap kristalisasi terjadi saat
komitmen pada satu bidang karir tertentu sudah terbentuk. Jika ada perubahan
arah, itu disebut “pseudo-crystallization”.
3. Tahap spesifikasi
Yaitu tahap pilihan pekerjaan yang
spesifik atau khusus. Pada tahap ini, semua segmen dalam orientasi karier yang
dimulai dari orientasi minat, kapasitas, dan nilai, sampai tahap eksplorasi dan
kristalisasi telah dijadikan pertimbangan yang matang dalam memilih arah dan
tujuan karier dimasa yang akan datang. Tahap spesifikasi terjadi bila individu
sudah memilih suatu pekerjaan atau pelatihan profesi untuk karir tertentu.[2]
4.
Unsur-Unsur
Teori Ginzberg
Perkembangan karir terikat pada tiga
unsur, yaitu proses, irreversibilitas, dan kompromi. Dari unsur proses
yang berpendapat bahwa pilihan terhadap pekerjaan itu merupakan suatu proses,
sedangkan unsur irreversibilitas merujuk pada pernyataan bahwa pilihan
pekerjaan itu tidak dapat diubah, dibatalkan, atau dibalikkan. Sedang kompromi
menyatakan bahwa pilihan pekerjaan merupakan kompromi dari faktor-faktor yang
ada, antara kepentingan subyek dengan kepentingan nilai, minat, dan
kemampuan. Setelah direvisi pada tahun 1970, proses yang semula berakhir
pada awal masa dewasa atau akhir masa remaja, kemudian dirumuskan bahwa tidak
demikian halnya tetapi berlangsung terus menerus. Mengenai
irreversibilitas, adanya pembatasan pilihan tidak mesti berarti bahwa pilihan
itu bersifat menentukan.
Apa yang terjadi sebelum orang
berumur 20 tahun mempengaruhi kariernya. Tersedianya kesempatan bisa saja
menyebabkan orang berubah dalam pilihan pekerjaannya. Konsep kompromi juga
mengalami revisi sebagai hasil temuan-temuan riset. Konsep dasar tentang
kompromi tetap, yaitu bahwa dalam pemilihan pekerjaan ada unsur kompromi. Hanya
saja, hal itu bukan peristiwa sekali saja. Konsep optimalisasi yang merupakan
penyempurnaan teorinya berarti bahwa setiap orang berusaha mencari kecocokan
yang paling baik antara minatnya yang terus mengalami perubahan, tujuan-tujuannya,
dan keadaan yang juga terus berubah. Kompromi bersifat dinamis dam berlangsung
seumur hidup.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teori perkembangan
karir Ginzberg menyatakan pilihan karir tidak hanya terjadi sekali saja
melainkan mengalami suatu proses perkembangan yang meliputi jangka
waktu tertentu. Sehingga pilihan-pilihan yang dibuat awal proses perkembangan
vokasional berpengaruh terhadap pilihan selanjutnya, dengan demikian
suatu keputusan yang diambil dapat ditinjau kembali. Dalam pemilihan karir
terdapat tiga tahapan utama yaitu fantasi, tentatif, dan realistik.
Kekuatan teori ini adalah dengan melewati fase seorang individu secara
berangsur-angsur dalam jabatan, dan sifatnya yang masih sementara sampai
orang dewasa dapat membuat pilihan jabatan untuk mendapatkan karirnya.
Kelemahannya terletak pada keterkaitan individu pada fase yang dilalui.
B.
Saran
Makalah ini jauh dari kesempurnaan,
kritik dan masukan dari pembaca dapat menambah kesempurnaan dari makalah ini.
Muda-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi
penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Dharsana, I
Ketut. 2010. Diktat Konseling Karir dan Problemtik Konseling.
Singaraja: Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Pendidikan Ganesha.
Munandir. 1996.
Program Bimbingan Karir di Sekolah. Jakarata : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi
[1]
I Ketut Dharsana,, Diktat Konseling Karir
dan Problemtik Konseling, (Singaraja: Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha, 2010) H30.
[2]
Munandir, Program Bimbingan Karir di Sekolah,
(Jakarata : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, 1996) H. 50-53
Tidak ada komentar:
Posting Komentar