Sabtu, 11 Maret 2017

Ulandtari.blogspot.co.id



MAKALAH PENDEKATAN KONSELING KARIR 

TEORI GINZBERG
D
I
S
U
S
U
N
Oleh Kelompok 5 :
Aswar Habibi
Khairunnisa
Rifqa Wahdina Fadnur Nst
Wulan Mentari
logo UIN.jpg

                   Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Bimbingan dan Konseling Islam
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
2016



KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji dan sanjung hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpah kepada junjungan kita Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang tegak diatas agama-Nya hingga akhir zaman.
Dengan memohon Ridha Yang Maha Kuasa, atas pembuatan makalah yang berjudul Teori Ginzberg dan dengan syukur kepada-Nya karena pembuatan makalah ini dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin.
Pada kesempatan ini kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen pembimbing. Dan sebagai manusia yang tidak lepas dari lupa dan salah, dalam makalah ini tentunya banyak ditemukan berbagai kesalahan dan kelalaian. Maka dari itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun dalam kesempurnaan makalah ini sangat kami harapkan.
Harapan kami, semoga makalah ini memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan kepada pembaca umumnya.


Medan, 12 Oktober 2016

Pemakalah





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1.Latar Belakang........................................................................................ 1
1.2.Rumusan Masalah................................................................................... 1
1.3.Tujuan...................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 2
1.      Konsep Teori Ginzberg..................................................................... 2
2.      Proses Pemilihan Karir...................................................................... 3
3.      Unsur-unsur Teori Ginzberg.............................................................. 6

BAB III PENUTUP.............................................................................. 7
A.    Kesimpulan........................................................................................ 7
B.     Saran.................................................................................................. 7

Daftar Pustaka............................................................................................ 8








BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Di era globalisasi saat ini, karir sangatlah diperlukan bagi semua orang khususnya bagi para peserta didik. Contohnya, sering kali para siswa kebingungan dalam memilih suatu jurusan di SMA. Penyebabnya tidak lain karena tidak paham betul dengan minat dan potensi yang ia miliki. Selain itu, faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi seseorang dalam mengambil suatu keputusan karir. Misalnya, seorang siswa merasa dirinya salah dalam memilih suatu jurusan. Hal tersebut disebabkan karena ia ikut-ikutan dengan  teman-temannya dalam memilih jurusan dan juga karena dorongan dari orang tuanya. Untuk mengetahui bagaimana karir itu terjadi dan bagaimana karir itu berkembang maka diperlukan pemahaman terhadap teori karir. Salah satu teori tentang karir adalah Teori Karir Ginzberg.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep-konsep pokok teori perkembangan karir Ginzberg
2.      Bagaimana proses pemilihan karir terjadi menurut teori perkembangan karir Ginzbe?
3.      Apa saja unsur – unsur teori perkembangan karir Ginzberg ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui konsep pokok teori perkembangan karir Ginzberg
2.      Untuk mengetahui proses pemilihan karir
3.      Untuk mengetahui unsure-unsur teori perkembangan karir Ginzberg










BAB II
PEMBAHASAN

1.      Konsep teori Ginzberg
Teori Ginzberg dikembangkan pada tahun 1951. Pokok yang dijadikan dasar bagi Ginzberg dalam membangun teorinya adalah didasari atas pendekatan psikologis atas tugas-tugas perkembangan yang dilalui manusia. Konsep perkembangan dan pemilihan pekerjaan atau karier oleh Ginzberg dikelompokkan dalam tiga unsur yaitu proses (bahwa pilihan pekerjaan itu merupakan suatu proses), irreversibilitas (bahwa pilihan pekerjaan itu tidak bisa diubah atau dibalik), kompromi (bahwa pilihan pekerjaan itu merupakan kompromi antara faktor-faktor yang main yaitu minat, kemampuan, dan nilai), dan optimisasi yang merupakan penyempurnaan teori (individu yang mencari kecocokan kerja).

Teori perkembangan karir (development career choice theory) mengatakan bahwa anak dan remaja melewati tiga tahap pemilihan karir yaitu : fantasi, tentative dan realistis. Saat ditanya “ mau jadi apa kalau sudah besar ?’’, anak kecil mungkin menjawab dokter, guru, polisi, tentara, astronot, atau pekerjaan lainnya. Pada saat masih kecil, masa depan terkesan dapat memberikan jutaan kesempatan. Ginzberg beragumentasi bahwa hingga usia 11 tahun, seorang anak masih dalam tahap fantasi dari pemilihan karir. Dari umur 11-17 tahun, remaja ada dalam tahap tentative dari perkembangan karir, sebuah transisi dari tahap pengambilan keputusan realistis dari masa dewasa muda.

Ginzberg percaya bahwa kemajuan remaja terlihat mulai dari mengevaluasi minat mereka (11-12 tahun) lalu mengevaluasi kemampuan mereka (13-14 tahun) sampai mengevaluasi nilai mereka (15-16 tahun). Pemikiran berubah dari yang kurang subyektif hingga pemilihan karir yang lebih realistis pada usia 17-18 tahun. Ginzberg menyebut usia 17-18 tahun hingga awal 20-an sebagai tahap realistis dalam pemilihan karir. Selama masa ini, tiap orang secara ekstentif mencoba karir yang mungkin, lalu memfokuskan diri pada satu bidang, dan akhirnya memilih pekerjaan tertentu dalam karir tersebut.[1]


2.      Proses Pemilihan Karir
Menurut Ginzberg, Ginzburg,  Axelrad, dan Herna, perkembangan dalam pemilihan pekerjaan terbagi menjadi tiga tahapan yaitu  fantasi, tentatif, dan  realistik.
a.      Masa fantasy
Masa  ini berlangsung pada individu dengan tahap usia sampai kira-kira 10 tahun atau 12 tahun (masa sekolah dasar). Pada masa ini, proses pemilihan pekerjaan masih bersifat sembarangan atau asal pilih, tanpa didasarkan pada pertimbangan yang matang (rasional dan  objektif) mengenai kenyataan yang ada dan hanya berdasarkan pada kesan dan khayalan belaka.
Menurut Ginzberg, kegiatan bermain pada masa fantasi secara bertahap menjadi berorientasi kerja dan merefleksikan preferensi awal untuk jenis aktifitas tertentu. Berbagai peran okupasional tercermin dalam kegiatan bermain, yang menghasilkan pertimbangan nilai dalam dunia kerja. Contohnya, anak umur lima tahun ingin menjadi tentara karena kegagahannya atau menjadi dokter karena dokter itu bermobil mewah dan penghasilannya besar dari praktek swasta. Anak seperti ini percaya bahwa ia bisa menjadi apa saja dan ini berdasarkan kesan yang diperolehnya mengenai orang-orang yang bekerja atau keadaan lingkungan.

b.      Masa tentatif
            Pada masa tentatif, pilihan karir anak mengalami perkembangan. Mula-mula pertimbangan karier itu hanya berdasarkan kesenangan, ketertarikan, dan minat saja tanpa pertimbangan apapun sedangkan faktor-faktor lainnya tidak dipertimbangkan. Menyadari bahwa minatnya berubah-ubah maka  anak mulai memikirkan dan bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia memliki kemampuan (kapasitas) melakukan pekerjaan yang dia inginkan, dan apakah pekerjaan itu cocok dengan minatnya. Masa  tentatif  berlangsung lebih kurang 11-18 tahun atau pada masa anak bersekolah di SMP dan SMA. Pada masa ini, pilihan pekerjaan  seseorang  mengalami perkembangan.

Conohnya seorang anak ingin menjadi seorang dokter, dikarenakan ia berpikir bahwa menjadi seorang dokter itu hanya sebatas memeriksa pasien dan mendapatkan uang, dan hidup dalam kemewahan. anak tersebut tidak berpikir panjang tentang keputusan yang dia ambil, bahwasnya menjadi seorang dokter itu tidaklah mudah, butuh pengetahuan yang luas dan biaya  yang cukup. sehingga dia berpikir bahwa menjadi dokter itu sangatlah sulit. sehingga anak tersebut sudah dapat memikirkan pekerjaan apa yang cocok dengan kemampuannya.
Dalam tahap ini, anak tersebut sudah dapat mengambil keputusan tentang kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang dia inginkan dan yang cocok dengan minatnya.

Pada masa tentative, Ginzberg mengklasifikasikan manjadi empat tahap, yaitu :

1.      Tahap minat  terjadi pada usia 11-12 tahun.
Individu membuat keputusan yang lebih tentang suka atau tidak suka. Individu cenderung melakukan pekerjaan/kegiatan hanya yang sesuai minat dan kesukaan mereka saja. Pertimbangan karier  pun juga didasari atas kesenangan, ketertarikan atau minat individu terhadap objek karier,  tanpa mempertimbangkan banyak faktor. Akan tetapi, setelah menyadari bahwa minatnya berubah-ubah (sebagai reaksi perkembangan dan interaksi lingkungannya), maka individu akan menanyakan kepada dirinya tentang kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan suatu pekerjaan. Keadaan ini disebut sebagai tahap kapasitas. Tahap kapasitas  yaitu individu  menjadi sadar akan kemampuan sendiri yang terkait dengan aspirasi vokasional. Tahap ini berlangsung antara pada usia 13-14 tahun  yakni masa dimana individu mulai  melakukan pekerjaan/kegiatan didasarkan pada kemampuannya masing-masing. Orientasi pilihan pekerjaan juga pada masa ini berbentuk upaya mencocokkan kemampuan yang dimiliki dengan minat dan kesukaannya.

2.      Tahap nilai  yaitu masa terbentuknya persepsi yang lebih jelas tentang gaya-gaya okupasional.
Tahap ini berlangsung pada usia 15-16 tahun yaitu tahap dimana minat dan kapasitas itu akan diinterpretasikan secara sederhana oleh individu yang mulai menyadari bahwa terdapat suatu kandungan nilai-nilai tertentu dari suatu jenis pekerjaan, baik kandungan nilai yang bersifat pribadi maupun serangkaian nilai yang bersifat kamasyarakatan. Kesadaran akan serangkaian kandungan nilai ini pula yang membuat individu dapat mendiferensiasikan nilai suatu pekerjaan.

3.      Tahap transisi berlangsung pada usia 17-18 tahun.
Pada usia ini individu menyadari keputusannya tentang pilihan karir serta tanggung jawab yang menyertai karir tersebut. Individu akan memadukan orientasi-orientasi pilihan yang dimiliki sebelumnya (minat, kapasitas, dan nilai) untuk dapat direalisasikan dalam kehidupannya. Tahap ini dikenal juga dengan tahap pengenalan secara gradual terhadap persyaratan kerja, pengenalan minat, kemampuan, imbalan kerja, nilai, dan perspektif waktu. Keputusan yang menjadi pilihan itu sudah merupakan bentuk tanggung jawab dan konsekuensi pola karier yang dipilih. 

c.       Masa realistik
Pada tahap  realistik  anak melakukan eksplorasi dengan memberikan penilaian atas  pengalaman-pengalaman kerjanya dalam kaitan dengan tuntutan sebenarnya, sebagai syarat untuk bisa memasuki lapangan pekerjaan atau kalau tidak bekerja, untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.   Masa ini mencakup anak usia 18-24 tahun atau pada masa perkuliahan atau mulai bekerja. Pada masa ini, okupasi terhadap pekerjaan telah mengalami perkembangan yang lebih realistis. Orientasi minat, kapasitas, dan nilai yang dimiliki individu terhadap pekerjaan akan direfleksikan dan diintegrasikan secara runtut dan terstruktur dalam frame vokasional untuk memilih jenis pekerjaan atau memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan arah tentatif mereka.
Dalam masa realistik dibedakan menjadi tiga tahap yaitu :
1.      Tahap eksplorasi
Yaitu tahap dimana individu akan melakukan eksplorasi (menerapkan pilihan-pilihan yang dipikirkan pada masa tentatif akhir dan belum berani mengambil keputusan) dengan memberikan penilaian atas pengalaman atau kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan dalam keterkaitannya terhadap tuntutan kerja yang sebenarnya. Penilaian ini pada hakikatnya berfungsi sebagai acuan atau syarat untuk bisa memasuki lapangan pekerjaan atau untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tahap ini berpusat pada saat masuk ke perguruan tinggi. Pada tahap ini, individu mempersempit pilihan karir menjadi dua atau tiga kemungkinan tetapi pada umumnya masih belum menentu.

2.      Tahap kristalisasi
Yaitu tahap dimana penilaian yang dilakukan individu terhadap pengalaman atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan baik yang berhasil ataupun yang gagal akan mengental dalam bentuk pola-pola vokasional yang jelas. Pada tahap ini, individu akan mengambil keputusan pokok dengan mengawinkan faktor-faktor internal dan  eksternal dirinya untuk sampai pada spesifikasi pekerjaan tertentu, termasuk tekanan keadaan yang ikut memaksa pengambilan keputusan itu. Tahap kristalisasi terjadi saat komitmen pada satu bidang karir tertentu sudah terbentuk. Jika ada perubahan arah, itu disebut “pseudo-crystallization”.

3.      Tahap spesifikasi
Yaitu tahap pilihan pekerjaan yang spesifik atau khusus. Pada tahap ini, semua segmen dalam orientasi karier yang dimulai dari orientasi minat, kapasitas, dan nilai, sampai tahap eksplorasi dan kristalisasi telah dijadikan pertimbangan yang matang dalam memilih arah dan tujuan karier dimasa yang akan datang. Tahap spesifikasi terjadi bila individu sudah memilih suatu pekerjaan atau pelatihan profesi untuk karir tertentu.[2]

4.      Unsur-Unsur Teori Ginzberg
Perkembangan karir terikat pada tiga unsur, yaitu  proses, irreversibilitas, dan kompromi. Dari unsur proses yang berpendapat bahwa pilihan terhadap pekerjaan itu merupakan suatu proses, sedangkan unsur irreversibilitas merujuk pada pernyataan bahwa pilihan pekerjaan itu tidak dapat diubah, dibatalkan, atau dibalikkan. Sedang kompromi menyatakan bahwa pilihan pekerjaan merupakan kompromi dari faktor-faktor yang ada,  antara kepentingan subyek dengan kepentingan nilai, minat, dan kemampuan.  Setelah direvisi pada tahun 1970, proses yang semula berakhir pada awal masa dewasa atau akhir masa remaja, kemudian dirumuskan bahwa tidak demikian halnya tetapi berlangsung terus menerus. Mengenai  irreversibilitas, adanya pembatasan pilihan tidak mesti berarti bahwa pilihan itu bersifat menentukan.
 Apa yang terjadi sebelum orang berumur 20 tahun  mempengaruhi kariernya. Tersedianya kesempatan bisa saja menyebabkan orang berubah dalam pilihan pekerjaannya. Konsep kompromi juga mengalami revisi sebagai hasil temuan-temuan riset. Konsep dasar tentang kompromi tetap, yaitu bahwa dalam pemilihan pekerjaan ada unsur kompromi. Hanya saja, hal itu bukan peristiwa sekali saja. Konsep optimalisasi yang merupakan penyempurnaan teorinya berarti bahwa setiap orang berusaha mencari kecocokan yang paling baik antara minatnya yang terus mengalami perubahan, tujuan-tujuannya, dan keadaan yang juga terus berubah. Kompromi bersifat dinamis dam berlangsung seumur hidup.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Teori perkembangan karir Ginzberg menyatakan pilihan karir tidak hanya terjadi sekali saja melainkan mengalami suatu proses  perkembangan  yang meliputi jangka waktu tertentu. Sehingga pilihan-pilihan yang dibuat awal proses perkembangan vokasional  berpengaruh terhadap pilihan selanjutnya, dengan demikian suatu keputusan yang diambil dapat ditinjau kembali. Dalam pemilihan karir terdapat  tiga tahapan utama yaitu  fantasi, tentatif, dan realistik. Kekuatan teori ini adalah dengan melewati fase seorang individu secara berangsur-angsur dalam jabatan, dan sifatnya  yang masih sementara sampai orang dewasa dapat membuat pilihan jabatan untuk mendapatkan karirnya. Kelemahannya terletak pada keterkaitan individu pada fase yang dilalui.

B.     Saran
Makalah ini jauh dari kesempurnaan, kritik dan masukan dari pembaca dapat menambah kesempurnaan dari makalah ini. Muda-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi penulis.














DAFTAR PUSTAKA

Dharsana, I Ketut. 2010.  Diktat Konseling Karir dan Problemtik Konseling. Singaraja: Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha. 
Munandir. 1996. Program Bimbingan Karir di Sekolah.  Jakarata : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi





[1] I Ketut Dharsana,, Diktat Konseling Karir dan Problemtik Konseling, (Singaraja: Jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha, 2010) H30. 

[2] Munandir, Program Bimbingan Karir di Sekolah, (Jakarata : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 1996) H. 50-53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar